Artikel

Antara Passion dan Career, Mana yang Lebih Diutamakan?

Linda Astuti, M.Psi., Psikolog
19-09-2021 20-59_cover.jpg

Pernahkan mendengan istilah love what you do dan do what you love? Nah istilah ini cukup membuat kita harus memikirkan dengan keras dan juga serius agar tidak salah dalam menentukan pilihan, dikarenakan karir merupaka suatu pekerjaan yang memiliki rentang waktu cukup lama dalam kehidupan begitu juga dengan passion yang juga tak kalah penting berpengaruh pada kehidupan, sementara itu Vallerand dan Houlfort (2003) mendefinisikan passion sebagai:

"A strong inclination toward an activity Kemungkinan terbaik hal itu akan menjadi that people like, that they find important, regulasi yang terintegrasi" (Deci & Ryan, 1985; 2000 and in which they invest time and energy)

Menurut Vallerand dan Houlfort passion merupakan kecenderungan kuat terhadap aktivitas yang disukai, yang mereka temukan bahwa itu penting, dan yang mana mereka memberikan waktu dan tenaga yang dimiliki untuk aktivitas tersebut. Penelitian terdahulu memang menunjukkan bahwa activity valuation menyebutkan (e.g., Deci, Eghrari, Patrick, & Leone, 1994), mengeluarkan waktu dan energi, dan menyukai tugas pekerjaan semuanya dapat diasosiasikan dengan engagement pada aktivitas yang diinvestasikan oleh individu (Vallerand dan Houlfort, 2003). Vallerand dan Houlfort (2003) juga mengusulkan dua tipe pada passion, yaitu obsessive dan harmonious. obsessive passion mengacu pada dorongan motivasional yang memaksa seseorang dalam melakukan aktivitas tertentu. Disisi lain, Vallerand dan Houlfort (2003) menjelaskan tentang harmonious passion yang mengacu pada dorongan motivasionla yang mengarahkan seseorang untuk terlibat aktivitaas secara sukarela dan menimbulkan kehendak dan dukungan personal untuk mengajar aktivitas tersebut.

Vallerand dan Houlfort (2003) percaya bahwa seseorang menjadi passionate terhadap aktivitas tertetu melalui dua proses penting yaitu penilaian terhadap aktivitas dan internalisasi pada representasi aktivitas dalam aspek inti dari diri seseorang, yaitu identitas seseorang. Sebagian besar aktivitas memiliki potensi untuk menjadi harmonious passion atau obsessive passion. Misalnya, sebagian besar tipe pekerjaan melibatkan setidaknya beberapa unsur ketertarikan. Sejauh minat terhadap pekerjaan tidak berlangsung singkat, tetap kuat, dan pekerjaan tersebut dirasa penting oleh individu. Maka pekerjaan akan berubah menjadi passion. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang atau aktivitas tertentu merupakan hal yang dinilai tinggi dan berarti, individu cenderung untuk menginternalisasi objek atau orang yang dihargai tersebut untuk menjadikannya bagian dari dirinya (Aron, Aron, & Smollan, 1992; Deci et al., 1994 dalam Vallerand & Houlfort, 2003). Namun, jika individu tidak menikmati pekerjaannya, maka internalisasi tidak akan berubah menjadi passion. Kemungkinan terbaik hal itu akan menjadi regulasi yang terintegrasi (Deci & Ryan, 1985; 2000 dalam Vallerand & Houlfort, 2003).

Mageau, dkk (2009) telah melakukan penelitian tentang peran autonomy support, activity specialization, dan identification with the activity terhadap perkembangan obsessive passion dan harmonious passion dimana subyek penelitian melibatkan 84 musisi dan 145 atlet dengan rata - rata usia 19,6 tahun. Hasil penelitian bahwa 100% subyek menunjukkan bahwa mereka passionate terhadap aktivitasnya. Subyek yang tergolong dalam harmonious passion lebih mungkin untuk mengalami tingkat yang lebih tinggi pada autonomy support dari lingkungan sosial dibanding kelompok. Sebaliknya, semakin banyak passion yang berasal Obsessive passion dari rasa identitas, semakin besar kemungkinaan mereka memiliki Obsessive passion. Dukungan otonomi dari orang dewasa lebih tinggi untuk harmonious passion dari pada Obsessive passion. Lingkungan sosial yang memberikan dukungan otonomi sehingga dapat berfungsi untuk membuat harmonious passion pada tingkat expert.

Sebaliknya, mengontrol orang dewasa yang menekan orang lain untuk mengejar suatu aktivitas atau untuk terlibat didalamnya dengan cara tertentu dapat menetapkan seseorang untuk cenderung memiliki passion dalam bentuk obsessive. Individu dengan Obsessive passion tanpaknya berasal dari rasa identitas yang lebih tinggi terhadap aktivitasnya daripada individu dengan harmonious passion. Hal itu mungkin bahwa individu dengan Obsessive passion tidak lagi melihat keterlibatkan mereka terhadap aktivitas sebagai pilihan akan tetapi lebih sebagai cara untuk mempertahankan identitas mereka. Penemuan ini konsisten dengan hasil sebelumnya yang menunjukkan bahwa meskipun kedua tipe passion berkolerasi dengan identitas seseorang, korelasi terkuat adalah pada tipe Obsessive passion (Vallerand et al., 2003. Studi 1).

Dengan adanya hasil penelitian yang menyatakan bahwa 100% subyek pada penelitian ini passionate terhadap aktivitasnya, menunjukkan bahwa passion memiliki peranan penting dalam mempertahankan usaha seseorang untuk mencapai tingkat ahli. Musisi adalah orang yang melakukan serangkaian aktivitas kreatif pada bidang music. Sehingga dalam bidang ini, musisi dapat digolongkan menjadi salah satu pekerja industri kreatif. Peran passion dalam industri kreatif ditunjukkan dengan bagaimana pekerja (dalam hal ini musisi) mempertahankan usahanya untuk mencapai tingkat ahli dengan passion yang dimilikinya.

Sementara itu, perlu diketahui ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar sobat bisa berkarir sesuai dengan passion yang dimiliki, yaitu diantaranya:

1. Jika adik-adik menyukai pekerjaan, dan juga ahli dalam bidang pekerjaan tersebut, namun adik-adik tidak dibayar layak, maka hal ini dinamakan (kerja bakti). Kondisi seperti ini akan membuat adik-adik tidak akan betah berlama-lama berkarir dengan situasi yang seperti ini bukan?

2. Adik-adik menyukai (passion) dalam pekerjaan tersebut, dan dibayar layak namun tidak ahli (professional) ini dinamakan (ngimpi). yahhh, otomatis tidak ada perusahaan yang mau membayar bukan?

3. Jika adik-adik ahli (professional) dan dibayar layak namun tidak menyukai (passion) dalam pekerjaan tersebut, hal ini sama saja adik-adik bekerja seperi robot, merasa tidak nyaman selama bekerja merasa penuh tekanan kondisi seperti ini tidak jarang membuat adik-adik menjadi kurang bersemangat dan juga tidak termotivasi untuk jenjang karir.

Nah adik-adik disini peluang adik untuk bisa menjadi ahli (professional), dibayar layak dan juga menyukai (passion) dalam berkarir dengan salah satu usaha adalah menjadikan diri memahami minat, menekuni sehingga menjadi ahli (professional) maka perusahaan akan bersedia membayar sesuai dengan keahlian yang adik-adik miliki. Kembali dengan pertanyaan pembuka diawal paragraph "love what you do dan do what you love?" untuk salah satu pilihan masing-masing memiliki konsekuensi, positif dan negatif, hal ini bagaimana adik-adik dalam menyikapi dan juga berusaha survive dalam setiap pilihan.

Sekian terima kasih adik-adik sobat Psimas.....

===========================

Daftar Pustaka

Mageau, G. A., Vallerand, R. J., Charest, J., Salvy, S. J., Lacaille, N., Bouffard, T., & Koestner, R. (2009). On the development of harmonious passion and obsessive passion: The role of autonomy support, activity specialization, and identification wit hthe activity. Journal of Personality, 77:3.

Vallerand, R.J., & Houlfort, N. (2003). Passion at Work: Toward a new conceptualization. In S. W. Gilliand, D. D. Steiner, & D. P. Skarlicki (Eds.), Emerging perspectives on values in organizations (pp. 175- 204). Greenwich, CT: Information Age Publishing.


Silakan bagikan halaman ini:

Artikel Lainnya

APA ITU TOXIC RELATIONSHIP?


BERJUANG MERAIH MIMPI


MENJADI KREATIF, KENAPA NGGAK?


Tumbuh berkembang bersama sahabat


Antara Passion dan Career, Mana yang Lebih Diutamakan?


Jadikan Membacamu Lebih Asyik


Katakan TIDAK pada Rayuan Pacar


Berbagi dengan Dukungan Psikologi Awal (DPA)


Setelah Ini, Aku Mau Ngapain?


Aku (Hanya) Ingin Bahagia


Habis Diputus Pacar, Kenapa Susah Move On?


Mengenal Diri dan Menghargai Diri sebagai Langkah Mencintai Diri Sendiri


Psikolog Masuk Sekolah
psikologmasuksekolah

@PSIMAS, 2020. ALL RIGHTS RESERVED