Artikel

BERJUANG MERAIH MIMPI

Maria Theresia, M.Psi., Psikolog
30-10-2021 16-48_cover.jpg

Hai teman remaja, bagaimana kamu memandang masa remajamu saat ini?

Apakah menurutmu membosankan karena harus mengerjakan banyak tugas atau PR, atau mengikuti banyak les ini dan itu? Atau masa yang menyenangkan karena bisa bertemu banyak teman, belajar hal baru, atau mengikuti ekstrakurikuler yang menarik?

Masa remaja merupakan masa mencari jati diri. Kamu mencoba hal baru, bertemu teman baru, atau bahkan memiliki mimpi yang ingin kamu capai nantinya. Mungkin saja kamu sedang berjuang untuk meraih mimpi itu dan setiap kegiatan yang kamu lakukan merupakan usahamu untuk mencapai mimpimu. Namun, tidak jarang kamu menemukan begitu banyak tantangan dan kesulitan di tengah proses itu.

Coba renungkan sejenak. Mungkin kamu pernah menghadapi kesulitan atau tantangan yang menghabiskan seluruh energi dan pikiranmu, sehingga rasanya kamu ingin menyerah dan melupakan mimpi terbesarmu. Kamu mulai mempertanyakan apakah mimpi itu layak untuk diraih atau mungkin kamu merasa sudah cukup puas dengan semua yang telah kamu raih sejauh ini.

Perjalanan meraih mimpi membutuhkan daya juang. Mimpi itu diibaratkan puncak dari sebuah gunung dan perjalananmu untuk meraihnya digambarkan seperti kamu sedang mendaki gunung tersebut. Nah, ada beberapa tipe pendaki gunung yang biasanya ditemui sepanjang perjalanan pendakian gunung.


1. Quitter.
 Pendaki ini digambarkan sebagai seorang yang mudah menyerah. Saat melihat jalan yang sempit, terjal, dan berbatu, ia berpikir tidak akan mampu untuk mendaki gunung sehingga memilih untuk menyerah. Ia menyerah bahkan sebelum pendakian dimulai! Seorang yang bertipe ini cenderung menyerah pada mimpinya ketika ia menemukan kesulitan. Ironisnya, saat kehidupan terus berjalan, mereka menoleh ke belakang dan merasakan banyak penyesalan.

2. Camper.
Pendaki tipe ini digambarkan sebagai seorang yang berjalan menyusuri jalur pendakian gunung dan pada satu titik merasa cukup puas dengan perjalanan yang sudah dilaluinya. Ia akan berpikir "ini adalah langkah terjauh yang bisa aku lakukan dan memilih untuk berkemah". Ia menemukan pemandangan indah di kaki gunung dan merasa cukup puas sehingga berpikir tidak perlu melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Ia mungkin turun dari gunung tanpa pernah mengalami rasanya berada di puncak! Seorang dengan tipe ini merasa cepat puas dengan hal yang sudah dicapainya dalam perjalanan mencapai mimpi. Ia berada dalam zona nyaman dan enggan keluar dari zona tersebut untuk kembali memulai perjalanan meraih mimpinya. Mereka menjalani hidup dengan membuat kompromi-kompromi dan lebih memilih hidup yang nyaman seperti ketika berkemah.

3. Climber.
Pendaki ini digambarkan sebagai seorang yang terus menyusuri jalur pendakian dalam kondisi apa pun. Jalan berbatu, terjal, atau pemandangan indah tidak menghentikannya untuk merasakan kebahagiaan saat sampai di puncak. Ia mungkin akan memperlambat langkah atau berhenti untuk menikmati pemandangan indah, tetapi hal itu tidak menghentikanya. Ia tetap mendaki karena tahu bahwa tujuannya adalah ke puncak! Seorang dengan tipe ini menyukai tantangan dan mampu memotivasi dirinya untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Saat ia sampai di puncak, ia menikmati perasaan itu dan mendaki gunung lain yang lebih tinggi.

Tipe pendaki yang manakah kamu?


============

Referensi:

Stoltz, P.G. (1997). Adversity Quotient:Turning Obstacles into Opportunities. Canada: John Wiley & Sons, Inc.



Silakan bagikan halaman ini:

Artikel Lainnya

Kamu Tim Growth Mindset atau Fixed Mindset?


Remaja Juga Bisa


Toxic Relationship VS Healthy Relationship


Kenapa Belajar Perlu Motivasi?


Apa Itu Toxic Relationship?


BERJUANG MERAIH MIMPI


Menjadi Kreatif, Kenapa Nggak?


Tumbuh berkembang bersama sahabat


Antara Passion dan Career, Mana yang Lebih Diutamakan?


Jadikan Membacamu Lebih Asyik


Katakan TIDAK pada Rayuan Pacar


Berbagi dengan Dukungan Psikologi Awal (DPA)


Psikolog Masuk Sekolah
psikologmasuksekolah

@PSIMAS, 2020. ALL RIGHTS RESERVED