Artikel

Habis Diputus Pacar, Kenapa Susah Move On?

Benny Pudyastanto, M.Psi., Psikolog
24-03-2021 11-41_cover.jpg

Banyak teman yang bercerita betapa lemah lesunya hidup mereka setelah berpisah dari kekasih hati. Hidup rasanya kosong, segala macam cita-cita dan idealisme hidup tampak sia-sia. Ketika mencoba pedekate orang lain untuk mencari pengganti kekasih, rasanya tidak mudah untuk melupakan sang mantan. Hidup memang tidak hanya perkara pacaran saja, tetapi mengapa ketika setelah diputus pacar lantas susah move on ? Mungkin kamu juga pernah mengalami hal serupa. Ini tidak hanya soal mantan pacar, tetapi bisa juga mantan istri, mantan suami, atau bahkan sekadar mantan gebetan.

Dunia psikologi bisa menjelaskan situasi ini. Ada yang bisa diingat, ada yang bisa dilupakan. Soal memori, itu adalah tugas pokok otak kita. Otak diciptakan sedemikian rupa bentuk dan fungsinya memang untuk mengingat apapun informasi yang ditangkap oleh indera kita : penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, suhu udara, dan yang paling berurusan dengan cinta, adalah perasaan. Segala macam informasi itu diterima, diolah, dan dimanfaatkan oleh otak untuk selanjutnya jadi pertimbangan tindakan kita.

Cara kerja memori itu ibarat orang membuka jalan ke tempat asing. Pada pertemuan pertama, kita harus membuka jalan dengan menebas rumput supaya tampak jalan setapak. Pada pertemuan kedua, kita mengenali kembali jalan setapak itu sehingga agak lebih cepat sampai tujuan. Pada pertemuan ketiga, kita mencoba melebarkan ruas jalan agar lebih nyaman sampai ke tujuan. Berikutnya jalan makin lebar, lalu diberi batu pijakan, diberi cor beton, bahkan hingga diberi aspal halus. Perjalanan yang pada awalnya kita harus mengingat tapak demi tapak, lama kelamaan karena halusnya jalan, kita tutup mata pun bisa sampai ke tujuan.

Jalan yang kita bangun itu adalah sistem saraf di otak kita yang bentuknya seperti serabut-serabut. Semakin sering kita mengingat satu hal, maka satu serabut memori itu bisa makin membesar ukurannya. Informasi di otak kita bergerak dari satu hentakan aliran listrik yang melalui serabut saraf itu. Kalau serabutnya makin besar, maka aliran listrik bisa makin lancar dan cepat. Dengan semakin lancar dan cepat, maka terjadi proses otomatisasi. Inilah yang dalam hidup sehari-hari kita sebut sebagai kebiasaan.

Sumber Gambar : Freepik.com

Berurusan dengan cinta, kamu mungkin mengenal pepatah witing tresna jalaran saka kulina, cinta tumbuh karena kebiasaan. Proses kerja otak untuk merekam memori itu cukup menjelaskan bahwa karena perjumpaan beberapa kali dengan seseorang itu bisa menumbuhkan rasa cinta. Otak diciptakan untuk mengingat, tetapi persoalannya, otak tidak diciptakan untuk melupakan sesuatu.

Proses lupa itu ibarat mengubah jalan tol kembali menjadi jalan setapak di belantara rumput. Kalau dalam dunia nyata, itu bisa dilakukan dengan sekejap, dengan cara menghancurkan jalan tol. Tetapi dalam sistem kerja otak, itu butuh waktu yang sangat panjang. Tidak ada cara singkat untuk mengecilkan serabut saraf. Yang paling mungkin kamu lakukan adalah dengan mengabaikan segala hal yang berkaitan dengan ingatan masa lalu. Kalau dalam konteks pacaran, kamu perlu mengabaikan segala hal yang berhubungan dengan sang mantan; entah nama, asal muasal, nomor kontak, akun medsos, atribut penampilan dia, dan segala hal yang bisa berkaitan dengan dia. Kalau itu semua bisa diabaikan, maka proses lupa itu bisa terjadi tahap demi tahap. Ibarat jalan tol, kalau lama tidak dilewati maka akan rusak dengan sendirinya, hancur, dan kembali jadi jalan setapak.

Persoalannya, usaha mengabaikan dan melupakan itu bukan barang mudah. Menghapus nomor telepon dan akun media sosial mungkin bisa dilakukan. Tetapi menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan sang mantan, itu bukan perkara mudah. Misalnya karena dia biasa menggunakan helm warna biru, lalu kita mudah sekali kembali ingat dia hanya karena melihat berbagai helm biru di jalanan. Atau karena dia bekerja sebagai tenaga medis di rumah sakit, lantas tiba-tiba kamu ingat dia hanya karena kamu berkunjung ke rumah sakit, meksipun berbeda lokasi. Atau tiba-tiba kamu ingat dia karena postingan dia tiba-tiba masuk di news feed Instagram kamu.

Proses mengabaikan jadi makin sulit ketika kamu punya banyak kaitan dengan sang mantan. Mungkin kamu ada di sekolah yang sama, atau di kantor yang sama, tinggal di kampung yang sama, satu organisasi, atau mungkin kamu memiliki beberapa sahabat yang sama dengan dia. Lalu apa yang bisa dilakukan ? Mulailah berlatih mengabaikan hal-hal yang berurusan dengan mantan. Jadilah biasa layaknya kamu berurusan dengan orang asing. Kalau kamu sekilas bertemu orang baru, toh kamu tidak akan memperdulikan pakaian, asal usulnya, atau gaya bicaranya.

Langkah lain yang tak kalah pentingnya, jangan coba-coba mencari pengganti kekasih hati kalau kamu belum benar-benar move on. Singkatnya, jangan mencari pelarian, karena hanya akan menambah situasi makin runyam. Dengan pelarian, kamu tidak akan menemukan hal baru, tetapi kamu justru berusaha mencocok-cocokkan karakter antara pasangan baru dan sang mantan. Oleh karena itu, move on dulu, dan nikmati hidup yang indah.


Referensi

Pinel, J., & Barnes, S. (2018). Biopsychology. New York: Pearson.

Silakan bagikan halaman ini:

Artikel Lainnya

Jadikan Membacamu Lebih Asyik


Katakan TIDAK pada Rayuan Pacar


Berbagi dengan Dukungan Psikologi Awal (DPA)


Setelah Ini, Aku Mau Ngapain?


Aku (Hanya) Ingin Bahagia


Habis Diputus Pacar, Kenapa Susah Move On?


Mengenal Diri dan Menghargai Diri sebagai Langkah Mencintai Diri Sendiri


Teman Curhat


Susun Rencana Masa Depanmu Lebih Terencana Dengan SMART


Berkenalan dengan Public Speaking


Remaja Solutif


Kenali Bahasa Cintamu


Psikolog Masuk Sekolah
psikologmasuksekolah

@PSIMAS, 2020. ALL RIGHTS RESERVED